Rabu, 04 Agustus 2010

CONTOH KTI DESKRIPTIF-KUALITATIF

Penggunaan Bahasa: Gaya dan Majas
Dalam Cerpen “Rampok” Karya Harris Effendi Thahar
Oleh: I Prasastie

I. Pendahuluan
Memberikan definisi pada sastra merupakan hal yang sampai saat ini belum terjawab dengan tuntas. Menurut Welleck & Warren (1995) salah satu cara yang dianggap paling mudah untuk memberi definisi pada sastra adalah dengan merinci penggunaan bahasa yang khas sastra (h.14). Sedangkan menurut Luxemburg (1991:21) sastra memiliki bahasa yang khusus dengan cara penanganan yang berbeda-beda, yang tidak hanya berlaku untuk puisi, tapi juga untuk prosa sastra. Cara penggunaan bahasa seperti pemilihan kata, perangkaian kata menjadi kalimat, dan penggabungan kalimat menjadi teks, merupakan hal yang harus dihadapi oleh seseorang yang menggubah teks. Pokok dan tujuan pembuatan teks merupakan hal yang mendasari penggunaan bahasa dalam teks tersebut. Pengarang juga menjadi faktor penentu penggunaan bahasa ini. Hal ini terbukti pada hasil tulisan seorang pengarang yang memuat penggunaan bahasa yang berbeda dengan hasil tulisan pengarang yang lainnya.
Makalah ini akan membahas beberapa gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen “Rampok” karya Harris Effendi Thahar yang dibagi ke dalam gaya sintaktis yang terdiri dari bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan, serta gaya semantis yang terbagi ke dalam majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas. Namun sebelum itu akan dibahas terlebih dahulu sinopsis dari cerita pendek yang berjudul Rampok ini.

II. Sinopsis Cerita
Dalam cerita ini terdapat beberapa orang karakter utama, yaitu Har, Hamsad, Pak Syamsul (paman istri Har), istri tokoh aku, dan Sam (staf Pak Syamsul). Kisah ini diawali dengan Hamsad yang bercerita kepada Har bahwa ia merasa berdosa karena telah merampok seseorang untuk membayar uang suap sebesar empat juta rupiah kepada Pak Syamsul, seorang personalia kantor wilayah yang juga paman istri Har. Uang suap itu diberikan agar Pak Syamsul meluluskan istri Hamsad yang sudah dua kali gagal mengikuti tes calon pegawai negeri. Har tidak berani menceritakan masalah ini kepada istrinya karena beberapa hal antara lain ia merasa istrinya akan sangat marah bila mendengar pamannya dianggap menerima uang suap karena istri Har sangat menentang praktek percaloan dan merasa kurang simpati dengan keluarga Hamsad. Istri Har juga selalu mengatakan dengan bangga bahwa ia berhasil lulus tes pegawai negeri tak lama setelah ia diwisuda dari IKIP dengan usahanya sendiri dan bukan karena pamannya orang dalam.
Cerita berlanjut ketika Har baru bertemu lagi dengan Hamsad lebih dari sebulan kemudian. Hamsad mengatakan bahwa istrinya ternyata tetap tidak lulus meskipun ia sudah memberikan uang suap. Har kemudian menawarkan bantuan untuk menemui Pak Syamsul dengan harapan istri Hamsad masih bisa diluluskan. Keesokan harinya Har pergi menemui Pak Syamsul namun ia terkejut mendengar Pak Syamsul yang menceritakan bahwa Hamsad merampok Sam, salah seorang stafnya di lapangan parkir sebuah bank dan kemudian menyerahkan kembali uang rampokan itu dalam bentuk uang suap. Hamsad sendiri tidak menyadari hal itu namun Sam mengenali dirinya ketika mereka bertemu di kantor Pak Syamsul. Yang membuat Har lebih terkejut lagi sekaligus tersinggung adalah tuduhan Pak Syamsul yang mengira Har terlibat dalam perampokan tersebut dengan alasan Hamsad berasal dari daerah yang sama dengan Har dan mereka juga rekan satu kantor.
Har kemudian pamit tanpa sempat membicarakan masalah kelulusan istri Hamsad. Pak Syamsul hendak menitipkan uang untuk istri Har namun Har menolak karena ia yakin istrinya masih cukup punya harga diri sehingga tidak akan sudi menerima bantuan pamannya yang berasal dari uang suap yang diberikan orang-orang yang ingin lulus sebagai pegawai negeri. Sesampainya di rumah, Har terhenyak setelah mengetahui istrinya dengan senang hati telah menerima sebuah amplop berisi uang dari pamannya yang diantarkan Sam yang jumlahnya cukup untuk membayar angsuran rumah empat kali.

III. Pembahasan
Pembahasan cerpen “Rampok” dari sudut pandang penggunaan beberapa gaya bahasa ini akan dibagi ke dalam dua bagian utama yaitu gaya sintaktis dan gaya semantis. Gaya sintaktis dibagi lagi ke dalam dua bentuk yaitu bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan. Sedangkan gaya semantis dibagi ke dalam tiga majas, yaitu majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas. Ketiga majas tersebut nantinya masih dibagi lagi ke dalam beberapa kelompok.

1. Gaya sintaktis
Bentuk sintaktis adalah konstruksi kalimat yang mencolok dari segi stilistika karena bangunnya yang menyimpang dari susunan yang “normal” (Luxemburg, 1991:62). Bentuk sintaktis ini sesungguhnya dibagi ke dalam tiga jenis yang terdiri dari bentuk pengulangan, bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan, namun karena bentuk pengulangan tidak dijumpai dalam cerpen ini maka hanya bentuk pembalikan dan bentuk penghilangan saja yang akan dibahas.
a. Bentuk pembalikan
Pada bentuk pembalikan atau inversi, terjadi perubahan terhadap urutan kata yang normal dalam kalimat. Dalam sastra fungsinya adalah agar suatu gambaran menjadi ekspresif, atau untuk memberi penekanan pada kata-kata tertentu (Luxemburg, 1991:63). Dalam cerpen ini tampak pada kalimat yang diucapkan istri Har berikut ini
“….Kalau terjadi kasus suap, mesti si pemberi diusut duluan,” begitu ia berkomentar (h. 65).
Kalimat “normal”-nya adalah “si pemberi mesti diusut duluan”, namun untuk memberi memberi penekanan bahwa menurut istri Har dalam kasus pemberian uang suap yang harus diusut terlebih dahulu adalah pemberi suap dan bukan yang diberi suap (dalam hal ini adalah pamannya), maka urutan katanya dibalik menjadi “mesti si pemberi diusut duluan”.
Contoh lain adalah kalimat yang diucapkan oleh tokoh Hamsad,
“….Tinggi-tinggi sekolah ke Jakarta, akhirnya membanting tulang di pinggir jalan…” (h. 67).
Kalimat “normal”-nya adalah “sekolah tinggi-tinggi ke Jakarta”, namun untuk memberi penekanan bahwa kuliah di sebuah akademi di Jakarta adalah jenjang yang cukup tinggi dan bukan hal yang biasa bagi tokoh Hamsad maka urutan katanya dibalik menjadi “tinggi-tinggi sekolah ke Jakarta”.
b. Bentuk penghilangan
Yang termasuk dalam bentuk penghilangan adalah elips. Elips terjadi jika bagian kalimat tertentu tidak ada (Luxemburg, 1991:64). Dalam cerpen ini tercermin pada kalimat yang diucapkan Hamsad ketika berada di kantin.
Ia berteriak, “Kopi susu sama nasi pecal.” (h.62)
Karena ada bagian yang dihilangkan, maka kalimat tersebut dapat diartikan macam-macam. Pilihan kita tergantung pada konteks kalimat. Jika konteks kalimatnya adalah memesan makanan, maka kalimat tersebut bisa berarti Hamsad memesan kopi susu dan nasi pecal namun jika konteks kalimatnya adalah menawarkan makanan, maka kalimat tersebut bisa berarti kantin ini menyajikan kopi susu dan nasi pecal.
2. Gaya semantis
Menurut Luxemburg (1991:64) gaya semantis mengacu pada makna kata, bagian kalimat, dan kalimat dan secara umum disebut majas. Majas yang terdapat dalam gaya semantis adalah majas pertentangan, majas identitas dan majas kontiguitas.
A. Majas pertentangan
Dalam majas ini terdapat istilah antitese atau majas yang disertai dengan paralelisme sintaksis, contohnya “Ada waktu untuk datang, ada waktu untuk pergi” (Luxemburg, 1991:64). Dalam cerpen ini tercermin pada kalimat yang diucapkan oleh tokoh Hamsad. Kutipannya adalah sebagai berikut,
“….Tapi itulah. Kalau mau berlaba mesti berugi dulu….” (hal. 64)
B. Majas identitas
Majas identitas mencakup perumpamaan dan metafora yang membandingkan objek atau pengertian dan menyamakannya secara semantis. Dalam proses metaforik terdapat beberapa bentuk seperti sinestesi dan personifikasi.
ii. Perumpamaan
Perumpamaan adalah perbandingan secara eksplisit antara dua obyek atau pengertian. Hal ini tampak pada percakapan antara Har dan Pak Syamsul (h.69) berikut ini,
“Tunggu. Titip aku uang ini untuk istrimu.”
“Tidak, terima kasih Paman. Istriku tidak suka makan daging manusia”.
Disini Har mengumpamakan uang pemberian paman istrinya yang merupakan uang suap sebagai daging manusia yang tidak pantas dimakan oleh sesama manusia yang beradab.
iii. Metafora
a. Bentuk metafora yang akan dibahas terlebih dulu disini adalah penghilangan bagian yang harfiah sehingga makna yang tidak ditunjukkan dalam teks harus kita tentukan sendiri untuk memperoleh pemahaman yang baik (Luxemburg, 1991:95) misalnya
Akhir-akhir ini justru Hamsad semakin dingin kepadaku (h.65).
Bagian harfiah yang tidak ditunjukkan pada kalimat tersebut adalah sikap Hamsad terhadap Har yang semakin tidak memedulikan Har maka Har menganggap Hamsad bersikap dingin terhadapnya.
b. Ada pula bentuk metafora yang memiliki arti tetap yang sudah terserap ke dalam bahasa sehari-hari dengan bentuk yang hanya berupa satu kata atau ungkapan tetap, satu kalimat atau bagian kalimat (Luxemburg, 1991:66).
Mungkin juga kalau Hamsad datang bertamu ia sering lupa waktu (h. 65).
Kata-kata “lupa waktu” pada kalimat tersebut merupakan sebuah ungkapan tetap yang berarti berlama-lama melakukan sesuatu hingga melewati batas waktu yang sewajarnya.
Contoh lain adalah kalimat yang diucapkan oleh Hamsad,
“….Tinggi-tinggi sekolah ke Jakarta, akhirnya membanting tulang di pinggir jalan. Pergilah kau minum. Aku mau cari angin ke luar dulu.” (h. 67).
Kata-kata “membanting tulang” dan “cari angin” juga merupakan ungkapan tetap yang terdapat dalam bahasa sehari-hari.
c. Bentuk lain dalam bidang semantik adalah sinestesi yang menunjukkan aspek dari indera yang satu dihubungkan dengan indera lain, contohnya “suara yang hangat” (Luxemburg, 1989:189). Dalam cerpen ini tercermin pada beberapa kalimat berikut,
Kalau berpapasan di kantor, ia hanya tersenyum hambar, bahkan seperti menghindar dariku (hal. 65).
Disini indera penglihatan berupa kata “senyum” dihubungkan dengan indera pengecap berupa kata “hambar “.
Aku sudah kenyang melihat kenyataan permainan dunia sekarang (h. 67).
Pada kalimat ini indera perasaan berupa kata “kenyang” dihubungkan dengan indera penglihatan berupa kata “melihat”.
d. Bentuk metafora yang banyak dijumpai adalah personifikasi dimana aspek arti dari sesuatu yang hidup dialihkan kepada sesuatu yang tidak bernyawa (Luxemburg, 1989:189). Contoh dalam cerpen ini adalah
“…Aku rasa dikejar-kejar dosa…” (h.64)
“Aku tahu istriku tidak setuju dengan praktek percaloan yang sudah mewabah akhir-akhir ini.” (h.64)
“….Makanya dunia ini tak adil…” (h.66)
Istriku menghadang di pintu sambil mengacungkan amplop gemuk. (h.69)
Dosa adalah sesuatu yang tidak bernyawa, namun dinyatakan bisa mengejar seseorang. Praktek percaloan bukan sesuatu yang dapat bergerak namun dinyatakan mewabah. Dunia juga merupakan sesuatu yang tidak bernyawa namun dinyatakan bersikap tidak adil. Amplop sebagai benda mati yang penuh berisi uang disamakan dengan manusia yang banyak makan maka dinyatakan gemuk.
C. Majas kontiguitas
Dalam majas kontiguitas terdapat pergantian satu pengertian dengan pengertian yang lain namun keduanya tidak memiliki hubungan persamaan melainkan hubungan kedekatan (Luxemburg, 1991:67). Majas ini terbagi ke dalam dua bentuk yaitu metonimia dan sinekdok.
i. Metonimia
Dalam metonimia ada kaitan makna tertentu yang dapat didorong oleh berbagai motivasi, misalnya sebab digantikan akibat atau isi digantikan wadah (Luxemburg, 1989, 189). Contohnya dalam cerpen adalah
“…Mungkin melihat saya menggigil dan berkeringat, ia rampas empat ikat dan langsung memasukkan ke dalam kemejanya…” (h.68)
Disini kata “ikat” mewakili isinya, yaitu uang.
ii. Sinekdok
Dalam gaya kontiguitas ini hubungan kedekatan antara pengertian yang disebut dan pengertian yang digantikan berupa hubungan bagian dan keseluruhan (Luxemburg, 1991:67). Dua bentuk yang paling terkenal dalam sinekdok adalah totum pro parte dan pars pro toto. Disini hanya akan dibahas bentuk totum pro parte saja karena hanya bentuk inilah yang terdapat dalam cerpen ini.
Totum pro parte adalah penyebutan keseluruhan menggantikan apa yang sebenarnya merupakan suatu bagian (Luxemburg, 1991:67).
“…Lagi pula jurusan Bahasa Inggris masih banyak dibutuhkan….” (h.64).
“…Kalau aku melanjutkan usaha beliau, apa kata dunia?…” (h.67)
Pada kalimat pertama terdapat penyebutan keseluruhan yaitu “jurusan Bahasa Inggris” yang menggantikan apa yang sesungguhnya merupakan suatu bagian yaitu para calon pegawai negeri. Sedangkan pada kalimat kedua terdapat penyebutan keseluruhan yaitu “dunia” yang menggantikan apa yang sesungguhnya merupakan suatu bagian yaitu orang-orang di sekitar sang tokoh.
VI. Kesimpulan
Dari analisis yang dilakukan terhadap penggunaan bahasa menurut gaya dan majas yang ditemukan dalam cerpen “Rampok” diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa cerpen tersebut menggunakan bahasa yang khas sastra. Seperti yang telah diketahui bahwa makna dari bahasa yang khas sastra atau bahasa sastra antara lain adalah bahasa yang penuh dengan asosiasi, bersifat konotatif serta mempunyai fungsi ekspresif yang menunjukkan sikap penulisnya. Semakin kaya pengetahuan bahasa serta pengalaman sastra yang dimiliki seseorang, ia akan semakin mampu melakukan analisis maupun pengamatan yang baik terhadap pemakaian bahasa dalam sebuah karya sastra. Hal ini sangat disadari oleh penulis makalah yang merasa analisis yang disajikannya sangat sederhana dikarenakan lingkup pengetahuannya yang masih sempit. Maka penulis mengharapkan kritik, saran dan masukan yang dapat memperkaya pengetahuan dan pengalamannya sehingga dapat melakukan analisis yang lebih baik lagi di kemudian hari.


DAFTAR PUSTAKA
Kompas. Laki-laki Yang Kawin Dengan Peri Cerpen Pilihan “Kompas” 1995, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 1995, h.62-69.
Luxemburg, Jan van, Mieke Bal, Willem G. Weststeijn, penerjemah Akhadiati Ikram. Tentang Sastra, Jakarta: Intermasa, 1991.
Luxemburg, Jan van, Mieke Bal, Willem G. Weststeijn, penerjemah Dick Hartoko. Pengantar Ilmu Sastra, Jakarta: Intermasa, 1989.
Welleck, Rene, Austin Warren, penerjemah Melani Budianta. Teori Kesusastraan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar