Jumat, 30 Oktober 2009

Hikayat Amir Hamzah

HIKAYAT AMIR HAMZAH

Ceritera pertama pria mengatakan kelakuan Alkosi Menteri dengan Khoja Bhakti Jamal. Demikian bunyinya :
Ada suatu negeri Madina namanya, negeri itu terlalu besar lagi dengan eloknya, dan rajanya dalam negeri itu Kibad Syahriar namanya. Dikata orang : raja itu terlalu hartawan, lagi budiman, lagi dermawan dan kasih akan segala hulubalang, dan menterinya, dan rakyatnya, lagi adilnya pun terlalu mashur, dan seorang pun raja di dalam dunia tiada dapat melalui titahnya dan tiada dapat mengikuti lakunya. Pada masanya semuanya raja-raja. Dalam hikayat dan takluknya. Adapun akan raja itu empat puluh empat ada menterinya dan tujuh ratus bentaranya, dan dua ratus pahlawan yang gagah-gagah yang memakai mahkota yang keemasan duduk dihadapannya, dan sepuluh laskar hulubalang yang mengendarai kuda semberani dan memakai baju jarah besi niah lagi kelihatan tubuhnya, dan tiga puluh ribu hamba tebusan yang memakai kalah-kalah yang keemasan bertahtakan ratna mutu manikam dan berikut berumbai-rumbaikan mutiara dan berbaju keemasan sekalian orang itu khidmad kepada raja Khibad Syahriyar pagi dan petang menghadap baginda itu. Adapun yang penghulu sekalian menteri itu ada seorang menteri terlalu amat adil dan budiman namanya Alkosi Menteri, barang sembahnya diperkenankan raja lagi sempurna pada ilmu jaman suda itu dari pada anak cucu Nabi Danial alaihissalam. Dalam neteri itu ada seorang lagi Islam, Khoja Bakhti Jamal namanya. Disebut orang lain daripada sudah itu semuanya kafir menyembah berhala, dan menyembah api. “Alkisah” : adapun Alkosi Menteri dan Khoja Bakhti Jamal terlalu sekali berkasih kasihan bersahabat seperti orang bersaudara lakunya. Sudah kala berkunjung kunjungan tiada dapat lagi ia berjarak. Jika belum Alkosi Menteri bertemu dengan sahabatnya Khoja Bakhti Jamal, belum Alkosi Menteri pergi menghadap raja. Sekali peristiwa seperti adatnya dahulu kala itu pada suatu hari datang Alkosi Menteri ke rumah sahabatnya Khoja Bakhti Jamal. Maka ia pun memandang kepada muka Khoja Bakhti Jamal, seraya dilihatnya pada telaah rumahnya maka digaruk-garukkannya kepalanya maka dilihatnya oleh Khoja Bakhti Jamal akan Alkosi Menteri menggarukkan kepalanya.
Maka kata Khoja Bakhti Jamal : “Hai saudaraku mengapa muka engkau melihat mukaku, mala engkau menggarukkan kepalamu ?” Maka kata Alkosi Menteri : “Hai Saudaraku kulihat pada telaah ramalku bahwa dalam empat puluh hari ini suatu masa besar datang kepadamu”. Setelah didengar Khoja Bakhti Jamal katanya Alkosi Menteri demikian itu, maka kata Khoja Bakhti Jamal : “Hai Saudaraku Alkosi Menteri, bicarakan apalah olehmu betapa periku menyulut mara itu katakan kepadaku supaya kukerjakan”. Maka kata Alkosi Menteri : “Hai Saudaraku pada bicaraku baiklah engkau khulwat empat puluh hari jangan engkau keluar dari rumahmu dan jangan engkau berkata dengan seorangpun. Arkian kata Alkosi Menteri itupun diperkenankan oleh Khoja Bakhti Jamal maka Alkosi Menteri pun kembalilah dari sana.
Maka Khoja Bakhti Jamal khulwatlah di rumahnya hingga datang kepada tiga puluh sembilan hari. Maka Alkosi Menteri pun datang berseru-seru kepada Khoja Bakhti Jamal : “Hai Handaiku pertetaplah hatimu, adapun mara itu telah lepaslah dari padamu, sekarang hanya sehari lagi tinggal tiadalah mengapa akan sekarang niscaya kebajikan datang akan engkau. Hai saudaraku bangkitlah engkau marilah kita kedua berjalan kepada taman memakan segala buah-buahan yang baik-baik rasanya dan bunga yang harum baunya itu kita pakai. Menengar kata Alkosi Menteri demikian itu, maka Khoja Bakhti Jamal pun turunlah keduanya merayakannya berjalan berpegang pegangan tangan. Maka pada antara jalan itu Khoja Bakhti Jamal pun hendak pada hajat. Maka ia berkata kepada Alkosi Menteri : “Hai Saudaraku, Tuan hamba berdirilah disini seketika, karena aku hendak kodha hajat”. Maka diberi hajat oleh Alkosi Menteri : maka Khoja Bakhti Jamal pun masuk kepada suatu penjuru taman itu. Setelah sudah Kodla hajat. Maka iapun mengangkat suatu batu hendak akan istinja’. Maka dilihatnya dari bawah batu itu suatu lubang kelihatan bagus diikat manusia. Batu itu terlalu indah indah sekali rupanya dan perbuatannya. Maka Khoja Bakhti Jamal pun masuk ke dalam lubang itu dilihatnya suatu suatu pintu pada suatu bilik diikat orang dengan batu : dalamnya itu kelihatan suatu perbendaharaan empat puluh buah tempayan, penuh dengan emas. Dibawah tempayan itu perbendaharaan karun tandanya ada suatu surat pada batu emas itu. Setelah Khoja Bakhti Jamal melihat emas itu, maka terlalu sekejutlah karena emas itu terlalu banyak sekali. Maka Khoja Bakhti Jamal pun pikir dalam hatinya adapun harta ini harta Baitul Maal. Akan apa gunanya baik aku memberi tahu sahabatku Alkosi Menteri agar supaya harta ini dibagikan akan segala fakir miskin. Setelah sudah ia pikir demikian itu, maka Khoja Bakhti Jamal pun pergi memberi tahu Alkosi Menteri. Demikian katanya : “Hai Saudaraku, adapun aku ada bertemu dengan suatu perbendaharaan tempayan berisi emas dalamnya empat puluh banyaknya. Maka kata Alkosi Menteri : Hai Saudaraku, dimana tempatnya perbendaharaan itu katakan kepadaku”. Maka lalu dicabutnya tangan Khoja Bakhti Jamal dan dipeluknya maka katanya : “Hai Saudaraku dan kekasihku, dimana tempat perbendaharaan itu ? tunjukkan apalah kepadaku”. Maka Khoja Bakhti Jamal pun membawa Alkosi Menteri kepada perbendaharaan itu. Setelah Alkosi Menteri melihat harta dalam perbendaharaan itu terlalu banyak sekali, maka hatinya pun terlalu sekejutnya. Mukanya pun berseri-seri seperti bunga dalam bahru kembang. Maka ia pun pikir dalam hatinya. Adapun jika Handaiku Khoja Bakhti Jamal kuhidupkan niscaya keluar juga rahasia ini seperti apimu kata orang dahulu kala tatkala berpantun demikian bunyinya : “Jikalau begitu memenggal kepala jangan bersaudara demikianlah. Hendaknya pekerjaan ini kukerjakan maka sempurna akan daku adapun sahabatku Khoja Bakhti Jamal di atas perbendaharaan inilah kubunuh supaya seumurku hidup aku makan harta ini datang kepada anak cucuku makan diberbiayakan habis dan suatu pun tiada hilanglah akan daku dan anak dan cucu juga. Sudah ia pikir itu, maka ditangkapnya Alkosi Menteri rambut Khoja Bakhti Jamal maka digagahinya ditekankan kepala Khoja Bakhti Jamal itu ke bumi maka didudukinya dadanya lalu dihunusnya hanjarnya dihantarkannya kepada leher Khoja Bakhti Jamal. Maka kata Khoja Bakhti Jamal : “Hai Saudaraku, tiada tega setiamu ! pekerjaan apa yang kau kerjakan ini ?” Maka kata Alkosi Menteri : “Hai Sahabatku ! inilah sebaik-baik muslihatku hendak membunuh engkau supaya rahasia ini jangan lagi seorang pun tahu”. Maka kata Khoja Bakhti Jamal : “Demi Tuhan yang menjadikan engkau dan aku bahwa rahasia ini tiada kukatakan pada seorangpun. Berapa kata Khoja Bakhti Jamal tiadalah didengarkan oleh Alkosi Menteri. Arkian, maka kata Khoja Bakhti Jamal : “Hai Sahabatku pada bicaraku engkaulah sahabat yang terlalu baik dari pada segala sahabatku yang lain. Pada bicaraku tiadalah daya lakumu demikian ini akan daku”. Maka kata itupun tiada juga diperkenankan oleh Alkosi Menteri. Tatkala itu Khoja Bakhti Jamal pun taulah bahwa Alkosi Menteri dengan sunguh-sungguh hatinya hendak membunuh akan daya. Maka kata Khoja Bakhti Jamal : “Hai Saudaraku ! Kuketahuilah sekarang ajalku akan mati dan dengan sungguh-sungguh hatimu engkau hendak membunuh aku. Ridholah aku dengan kehendak Allah Subhana Wataala dan kuserahkannyalah nyawaku pada tanganmu : tetapi ada suatu pesanku padamu jangan tiada kau sampaikan ke rumahku”. Maka kata Alkosi Menteri : “Hai Khoja Bakhti Jamal, apa pesanmu kepadaku ? Katakanlah supaya kudengar karena tiadalah aku menghidupi engkau !” Maka kata Khoja Bakhti Jamal : Bahwa isteriku hamil kutinggalkan karena sekarang aku berlayar dari negeri fana kepada negeri yang baqo’. Adapun akan istriku itu, Allah Subhana Wataala juga lagi menghidupi lain dari pada Allah tiada siapa kuasa. Adapun dari pada harta ini barang seribu tanggah emas berikan kepada isteriku dan katakan salam kekasihmu bahwa suamimu itu ditolong oleh seorang baya pria dibawanya berlayar sertanya ke negeri hujam. Sekarang sudahlah ia pergi, inilah seribu tanggah emas disuruhnya berikan akan dayaku dan demikian pesannya jika anaknya laki-laki namanya Khoja Bajar Jamar dan bayiku peliharakan, Adapun jika anaknya perempuan, Bariq Bahramulah namanya itu. Maka pesan Khoja Bakhti Jamal itupun dikabulkan oleh Alkosi Menteri. Maka Khoja Bakhti Jamal itupun disembelihnya oleh Alkosi Menteri. Setelah sudah Alkosi Menteri membunuh Khoja Bakhti Jamal, maka ditanamkannya diatas perbendaharaan itu. Maka diambilnya seribu tanggah emas. Maka ia pun keluar dari dalam taman itu dengan sekejutnya. Maka dibawanya tanggah emas itu kepada istri Khoja Bakhti Jamal. Syahdan seperti pesan Khoja Bakhti Jamal dikatakannya pada isterinya Khoja Bakhti Jamal. Maka istri Khoja Bakhti Jamal pikir dalam hatinya : Sungguhlah seperti kata Alkosi Menteri itu. Maka tanggah emas itupun diambilnya oleh istri Khoja Bakhti Jamal dan hatinyapun terlalu suka. Serta minta dihalalkan Alkosi Menteri, maka Alkosi Meteri pun pulang ke rumahnya ; maka ia pun memanggil segala laskarnya dan hamba sahayanya, maka disuruhnya pagari taman itu berkeliling tuguh-tuguh. Setelah sudah dipagari orang. Maka Alkosi Menteri pun menyuruh mendirikan sebuah mahligai dibatas perbendaharaan itu berkeliling mahligai itu di tanamnya bagai-bagai pohon kayu. Maka Alkosi Menteri pun sudah kalah disanalah melakukan kesukaannya siang malam dengan anak isteri dan hamba sahaya sekalian. “Wallohu a’lam”
-------------------------
Ceritera yang kedua pria mengatakan tatkala jadi Khoja Bajar Jamar Hakim, dan pria mengatakan tatkala raja Khibad Syahriar membesarkan Khoja Bajar Jamar Hakim dan menjadikan ia menteri.
“Alkisah”. Setelah genaplah bulannya, “Khoja Bakhti Jamal” itu, maka iapun beranaklah seorang laki-laki. Pada ketika yang baik dinamainya akan anaknya “Khoja Bajar Jamar” dan dipeliharakannya dengan sepertinya harta berapa lamanya daripada sehari-hari “Khoja Bajar Jamar” pun besarlah dan alamat budak akan berbahagia adalah padanya dan berdualah rupanya dilihat orang banyak. Bermula segala orangpun terlalu kasih akan daya berapa lamanya datanglah usianya “Khoja Bajar Jamar” kepada sembilan tahun maka iapun dibawanya oleh ibunya kepada mualim maka disuruhkannya mengaji Qur’an. Berapa lamanya “Khoja Bajar Jamar” pun mengaji maka ilmu pun banyak diperolehnya, lidahnya pun terlalu baik dan gurunya pun terlalu heran melihatnya. Akan “Khoja Bajar Jamar” mengaji itu terlalu sangat pahamnya kelakuan maka ada suatu kitab di rumah mualim itu Jamsi Hakim namanya kitab itu. Adapun asalnya daripada Jamsi Hakim juga diperolehnya oleh “Khoja Bakhti Jamal” maka tiada termutolaahkan oleh “Khoja” itu. Maka diberikah oleh “Khoja Bakhti Jamal” kepada mualim itu. Maka mualim itu tiada dapat memutholaahkan kitab itu apa ada dalam kitab itu tiada diketahuinya. Maka pada suatu hari mualim itupun mengatakan peri kelakuan kitab itu dihadapan “Khoja Bajar Jamar” setelah didengar oleh Khoja Bajar Jamar kata gurunya itu maka kata Khoja Bajar Jamar : Hai tuanku ! beri apalah akan hambamu kitab itu barang sehari dua hari hamba pinjam supaya kitab itu hamba mutholaahkan arkian, maka gurunya itupun segera berbangkit masuk ke dalam rumahnya. Maka diambilnya kitab itu diberikannya kepada “Khoja Bajar Jamar”. Maka Khoja Bajar Jamar pun bermohon kepada gurunya pulang ke rumahnya. Dibawanya kitab itu, maka dimutholahkan oleh Khoja Bajar Jamar dilihatnya dalam kitab itu peri kelakuan raja “Kitab Syahriar” dan peri “Alkosi Menteri” membunuh bapaknya. Itupun semuanya dilihatnya dalam kitab itu. Habis diketahuinya sudah itu maka kitab itupun ditaruhnya maka iapun datanglah kepada ibunya perlahan-lahan dengan sembah sujudnya. Maka ia pun berkata perlahan-lahan : “Hai ibuku ! Bapakku sekarang kemana ? Maka kata ibunya : “Hai anakku, tatkala engkau lagi di dalam perutku, Bapakmu pergi berlayar sekarang ia tiadalah ada lagi wartanya. Betapa halnya pun tiada lagi aku tahu. Sesudah itu maka Khoja Bajar Jamar berkata pula, Hai ibuku, “Alkosi Menteri itu sekarang adakah ia lagi hidup itu tiadakah ?” Maka kata ibunya : Hai anakku ! “Alkosi Menteri” itu ada hidup. Ialah yang sahabat bapakmu terlalu berkasih-kasihan dengan dia lebih dari pada orang bersaudara seibu sebapak. Demikian kasihnya akan bapakmu. Setelah Khoja Bajar Jamar mendengar kata ibunya demikian, maka iapun berdiam dirinya. Sehari-hari sudah kalah memutholaahkan kitab itu juga dan sudah kalah terlalu khidmat akan ibunya dan akan gurunya.
“Alkisah”. Pada suatu hari, maka berkata ibu Khoja Bajar Jamar kepada anaknya : “Hai Anakku, adapun ingin makan sayur pada taman “Alkosi Menteri” itu kudengar banyak sayur”. Arkian, maka Khoja Bajar Jamar pun pergi ke pihak taman Alkosi Menteri setelah datanglah Khoja Bajar Jamar ke pintu taman itu maka, besi kilang-kilang pintu itupun dihempaskan oleh Khoja Bajar Jamar setelah didengar oleh junggai yang menunggu taman itu bawanya orang diluar pintu, maka junggai itupun segera keluar. Maka dilihatnya ada seseorang muda berdiri di muka pintu itu terlalu elok rupanya. Sekalian bunga dalam taman itu seolah-olah pudarlah warnanya sebab daripada warna muka orang muda itu maka kata junggai itu : “Hai orang muda ! apa kehendakmu kemari ini? terlalu elok rupamu ! maka kata Khoja Bajar Jamar : Aku datang ini hendak membeli sayur. Maka kata junggai itu : “Hai orang muda ! daripada maka aku mengambil harganya sayur ini ? berapa kehendakmu sayur ini ? ambillah ! kuberi. Marilah engkau masuk ke dalam taman ini. Adapun dalam taman itu ada sebuah mahligai diperbuatnya oleh Alkosi Menteri ; malam siang disanalah ia duduk melakukan kesukaannya. Setelah itu maka junggai itupun membawa Khoja Bajar Jamar masuk ke dalam taman itu. Tatkala itu Alkosi Menteri pun ada di duduk di atas mahligai itu. Maka dilihatnya segala kelakuan “Khoja Bajar Jamar” tak satupun tiada katanya. Maka junggai itu pergi memungut sayur. Adapun pada tempat “Khoja Bajar Jamar” duduk itu ada seekor kumbang bertambat. Kumbang itupun menotok menotok talinya hendak makan sayur. Maka Khoja Bajar Jamar pun perlahan-lahan mengikat diuraikannya kumbang itu. Setelah kumbang itu lepas, maka kumbang itu pun berlari-lari masuk ke pada taman. Disanalah dia makan bunga dan sayur. Dengan demikian maka kumbang terlihat oleh junggai itu disangkanya kumbang melepaskan dirinya. Maka ditunggunya lalu ditambatkannya pulang pada tempat yang dahulu itu. Maka ia pun pergi pula memungut sayur. Maka sekali lagi “Khoja Bajar Jamar” berbangkit dilepaskannya kumbang itu. Maka kumbang itupun berlari-lari memakan bunga pula dilihat oleh junggai itu. Maka iapun amarah maka ambilnya batang junggai dilotarkannya kepada kumbang itu kena perutnya. Maka kumbang itupun mati. Setelah dilihat oleh Khoja Bajar Jamar maka katanya : “Hai junggai ! ketika halal dijadikan haram. Maka kata Khoja Bajar Jamar terdengarlah oleh Alkosi Menteri maka Alkosi Menteripun heran lalu memanggil junggai itu. Katanya : “Hai junggai ! kanak-kanak itu bawa kemari. Maka junggai itu pun membawa Khoja Bajar Jamar kepada Alkosi Menteri. Ini junggai kumbang itu disuruhnya bawa kehadapan Alkosi Menteri maka Alkosi Menteri pun bertanya kepada Khoja Bajar Jamar : "Hai kanak-kanak siapa namanya dan anak siapa engkau ? maka kata Khuja Bajar Jamar : Hai Alkosi Menteri adapun namaku Khuja Bajar Jamar. Dan nama bapaknya Khoja Bakhti Jamal. Maka kata Alkosi Menteri : “Hai Khoja Bajar Jamar ! bapakmu kemana perginya sekarang ? maka kata Khoja Bajar Jamar : “Bapakku kudengar mengerjakan pekerjaan seorang biperi ditolongnya dibawanya berlayar sertanya berapa lamanya suatupun tiada kabarnya kudengar. Dimana ia sekarang tiada aku tahu. Maka kata Alkosi Menteri : “Hai kanak-kanak betapa artinya katamu itu. Ketika halal kujadikan haram. Seekor yang mati. Maka kata Khoja Bajar Jamar : “Hai Alkosi Menteri ! ada di dalam perut kumbang itu dua ekor anaknya. Seekor hatimu empat kukunya putih, dan seekor belang sebelah matanya buta sebab kena lotarnya Junggai itu, lalu mati. Setelah demikian maka disuruh Alkosi Menteri belah perutnya kumbang itu. Setelah dibelah orang maka dilihatnya singgah seperti kata Khoja Bajar Jamar itu. Maka Alkosi Menteri pun heranlah seraya pikir dalam hatinya “barang siapa tahu akan segala yang di dalam perut kumbang itu, niscaya tahulah ia akan orang yang membunuh bapaknya itu. Setelah ia pikir demikian itu, maka dipanggilnya oleh Alkosi Menteri seorang hulubalang habsyi memegang pedang. Maka kata Alkosi Menteri : “Hai Hulubalang ! kanak-kanak ini bawa olehmu ke penjara taman ini sembelih lehernya dan belah dadanya ; sudah itu ambil hatinya maka pajak. Setelah masuk, maka bawa kepadaku supaya kumakan. Maka hulubalang itupun membawa Khoja Bajar Jamar ke penjara taman itu. Adapun hulubalang habsyi itu malam siang segala berahi hatinya akan anak Alkosi Menteri yang perempuan itu. Hatinya hendak berdapat perempuan itu juga sebab dia telah maka ia pun khidmat kepada ’Alkosi Menteri’. Setelah sampai habsyi itu ke penjara taman itu, maka dihunusnya khanjarnya hendak membelah leher Khoja Bajar Jamar maka Khuja Bajar Jamar : “Hai Habsyi ! Jika aku kau bunuh, yang kau cinta itu tiadalah kau peroleh lagi dan maksudpun tiada sampai kepadamu”. Maka kata hulubalang itu : “Hai kanak-kanak ! apa yang kucinta itu ?” .Maka kata Khoja Bajar Jamar : “Adapun engkau anak raja Habsyi akan sekarang kujadikan dirimu hulubalang Alkosi Menteri dan kuperhambakan dirimu kepadanya. Maksudmu itu hendak akan anak Alkosi Menteri pada malam dan siang inilah citamu dan rasamu pun terlalu birahi kepada perempuan itu. Maka Habsyi itupun heranlah mendengar kata “Khoja Bajar Jamar” itu. Lalu didekapnya dan diciumnya. Maka kata habsyi : “Hari orang muda, bicaramu terlalu elok lagi budiman sekali engkau. Betapa periku akan sampai kehendakku itu ?” maka kata “Khuja Bajar Jamar” jika aku tiada kau bunuh, yang kuberikan itu anak “Alkosi Menteri” dalam empat puluh hari juga kuserahkan kepadamu. Maka kata hulubalang habsyi : “Hai kanak-kanak ! akan sekarang “Alkosi Menteri” hendak makan pucuk hatimu. Apa kelak katamu padanya? Maka kata “Khoja Bajar Jamar” : “Hai Hulubalang ! pergilah engkau kepekan ! ada seorang perempuan tua berjual kambing beli olehmu kambing itu. Maka sembelih olehmu. Ambil hatinya pajak sudah masih maka bahwa kepada Alkosi Menteri”. Maka kata habsyi itu ”Yang hati kambing dan hati manusia itu berlain-lainnan rasanya”. Maka kata “Khoja Bajar Jamar” : “Hai Hulubalang ! adapun hati kembing seekor itu sama rasanya dengan hati manusia”. Maka kata hulubalang itu : “Hai anak muda betapa perihnya maka hati kambing sama rasanya dengan hati manusia?” Maka kata Khuja Bajar Jamar ”Adapun pada suatu hari kambing itu beranak dan perempuan yang empunya kambing itupun beranak. Arkian ibu kambing itupun mati. Maka anak kambing itu disusukannya oleh yang empunya kambing itu. Dipeliharakan seperti anaknya. Akan sekarang ia pun gugur dengan bayinya. Sebab ia telah kambing itu hendak di jalanya. Hai Hulubalang ! Baiklah tuan hamba segera membeli kambing itu sembelih pajak hatinya bahwa kepada “Alkosi Menteri” adalah hanya rasa hati kambing itu seperti cita rasa hati manusia. Mendengar kata “Khuja Bajar Jamar”. Demikian itu maka Habsi itupun segeralah kekapkan, maka dibelinya kambing itu dibawanya ke rumahnya. Maka disembelihnya diambilnya hatinya dipajahnya dibawanya kepada “Alkosi Menteri”. Maka diambilnya pujah oleh “Alkosi Menteri”. Maka dari pada sangat lahapnya semuanya habis dimakannya. Maka dalam hati “Alkosi Menteri” baharulah sempurna pekerjaanku tiadalah ada perencanaanku lagi.
Arkian dengan “Allah Taallah” pada suatu malam maka raja Kibad Syahriyar pun bermimpi. Setelah sudah bermimpi, maha raja pun sadar dari pada tidurnya, maka rajapun lupa akan mimpinya itu. Setelah hari siang, pagi-pagi hari maharaja “Kibad Syahriyar” pun duduk semayam diatas singgasana yang bertahtakan ratna mutu manikam. Maka rajapun menitahkan memanggil segala menteri dan segala bantara dan segala hulubalang dengan seketika itu juga. Maka sekalian orang kaya-kaya menghadap raja “Kibad Syahriyar”. Maka raja pun bertitah : ”Hai segala kamu orang kaya, menteriku dan bantarku dan hulubalang! sekarang hendaklah kamu mengatakan apa yang kumimpi pada malam ini karena aku telah lupa akan mimpiku itu”. Maka sembah segala menteri dan bantar hulubalang sekalian : ”Ya tuanku sah alam jika yang dipertuan mengatakan mimpi itu kepada patiku sekalian niscaya dapat petaka mengadakan takaburnya akan sekarang yang dipertuan lupa akan yang dimimpi itu. Maka titah raja kepada “Alkosi Menteri” : ”Hai menteriku ! sekarang engkau kujadikan perdana menteri lebih besar dari pada sekalian orang dalam negeri Madina ini. Seorang pun tiada lagi sama dengan engkau. Adapun pada harinya hendaklah engkau mengatakan mimpiku ini. Jika tiada kau katakan mimpiku itu. Demi berhala besar demi berhala kecil bahwa engkau kusilahkan dengan hidupmu”. Apabila “Alkosi Menteri” mendengar titah raja yang demikian, maka hatinya ketakutan heran akan dirinya. Maka ia pun teringatnya akan “Khoja Bajar Jamar” dalam hatinya. Jika kanak-kanak itu hidup dapatlah ia mengatakan mimpi raja ini karena anak kumbang di dalam perut ibunya lagi diketahuinya. Baik aku kembali. Setelah sudah ia pikir demikian itu. ”Barang 3 hari lagi hambamu minta janji”, maka titah raja : ”Baiklah”. Maka “Alkosi Menteri” pun pulang ke rumahnya. Maka ia pun segera mencari memanggil habsi itu. Maka dengan seketika itu juga habsi itu pun datang. Maka kata “Alkosi Menteri”: ”Hai Hulubalang ! akan budak itu kan mengapa akan dia ?”. Maka kata habsi itu : ”Ya tuanku ! dengan jajah tuan hamba sudahlah hamba bunuh, hamba sembelih lehernya dan hamba belah dadanya dan hatinya itulah hamba bawa kepada Tuan hamba”.
Maka kata “Alkosi Menteri”: ”Dimana tempat kau bunuh itu ?” maka habsi itupun tiadalah menjawab lagi. Karena kehabisan jawabnya.
Maka kata Alkosi Menteri: “Hai Hulubalang ! jangan bercinta akan dirimu jika baik budak itu engkau segera pergi mengambil dia padaku”. Serta ia mendengar kata “Alkosi Menteri” demikian itu. Maka hulubalang habsi itu pun segera pulang ke rumahnya. Maka dibawanya budak itu kehadapan “Alkosi Menteri”.
Apabila “Alkosi Menteri” melihat muka “Khoja Bajar Jamar” itu, maka ia pun segera berangkat maka diberikan hormat akan “Khuja Bajar Jamar”, lalu dipegangnya tangan dipeluknya dan diciumnya akan “Khoja Bajar Jamar”. Maka kata “Alkosi Menteri” : “Hai anakku Khoja Bajar Jamar ! dari pada kau heran engkau kuambil akan anakku. Dan anakku perempuan itupun kuberikanlah padamu. Maka yang salah bab lalu janganlah kau taruh dalam hatimu, karena aku sahabat bapakmu. Adapun jika ada kasihmu kepadaku, katakanlah olehmu apa yang dimimpi raja pada malam tadi jika dapat kau katakan, terlalu berbahagia sekali engkau”. Maka kata “Khoja Bajar Jamar”: ”Hai Alkosi Menteri jika raja mengatakan mimpi kepada aku, maka dapat aku mengartikan dia”. Maka beberapa-beberapa kali dipintanya oleh “Alkosi Menteri” akan “Khoja Bajar Jamar” tiada juga ia mau mengadakan dia. Kemudian dari itu. Maka “Alkosi Menteri” pun pergi menghadap raja. Setelah dilihat raja, “Alkosi Menteri” datang, maka dari jauh pun bertanya : “Hai “Alkosi Menteri” dapatkah sekarang engkau mengatakan mimpiku, atau tiadakah?” Maka “Alkosi Menteri” pun sujud, kepalanya lalu ke tanah. Maka sembah “Alkosi Menteri” : “Ya tuanku Syah Alam, ada seorang kanak-kanak di rumah hambamu. Beberapa lamanya ia lari ; sekarang pada hari ini, ia ada duduk. Jika segera yang dipertuan menitahkan seorang memenggal dia, niscaya datanglah menghadap Syah Alam. Pada bicara padaku, ialah dapat mengatakan mimpi sah alam itu”.
Maka dengan seketika itu juga, rajapun menitahkan budawan memanggil “Khoja Bajar Jamar” : ”Hai budawan! pergi kamu, bawa seekor, kenakan pelananya dan gagangnya, panggil akan kanak-kanak yang dikata “Alkosi menteri” itu”. Maka biduan itu pun segera sembah lalu berlari-lari mengambil seekor kuda dengan kelengkapannya. Maka dibawanya pergi memanggil kanak-kanak itu. Apabila budawan itu datang kepada “Khoja Bajar Jamar”, maka dijunjungkannya titah raja itu kepada ia serta kuda itupun diberikannya akan kenaikannya. Maka kata “Khoja Bajar Jamar”, ”Hai budawan ! Katakan katakan sembah hamba manusia. Betapa peri hamba duduk di atas belakang jana itu”. Maka budawan itupun segera kembali bepersembahkan kepada raja segala kata “Khoja Bajar Jamar” itu.
Maka titah raja : ”Tanyakan olehmu apa kehendaknya akan kendaraannya”.
Maka budawan itu pun segera pergi kepada “Khoja Bajar Jamar”. Setelah budawan itu datang, maka katanya : ”Hai Khoja! Apa kehendak Khoja akan kendaraan ?” Maka kata “Khoja Bajar Jamar” : ”Persembahkan sembah hamba kebawah duli yang dipertuan, jikalau dapat “Alkosi Menteri” itu dibawa kekang pada mulutnya dan pelana pada belakangnya, maka ia-lah kendaraan hamba. maka hamba mau mengadap raja”. Maka budawan itu pun segera kembali mengadap raja lalu datang sembah ke bawah raja, seperti kata “Khoja Bajar Jamar” itu. Setelah raja menengar kehendak “Khoja Bajar Jamar” itu. Maka bagindapun amat heranlah. Kemudian dari itu, maka raja pun bersebut kepada budawan itu : ”Bawalah olehmu “Alkosi Menteri” bawa bah kekang pada mulutnya dan kenakan pelana kebelakangan. Maka segera bawa kepada kanak-kanak itu pada bicaraku ada juga “Alkosi Menteri” berbuat aniaya kepadanya. Maka dipintanya akan kendarannya”.
Setelah budawan menengar kata raja demikian, maka “Alkosi Menteri” itu pun dibawa bahu oranglah kekang pada mulutnya dan dikenakan pelana diatas belakangnya. Maka “Alkosi Menteri” dibawa oleh budawan itu kepada “Khoja Bajar Jamar”. Setelah dilihatkan “Khoja Bajar Jamar” akan “Alkosi Menteri” dibawa orang kepadanya dengan kekangnya dan pelanya, maka “Khoja Bajar Jamar” pun segera berlari-lari melompat kebelakang “Alkosi Menteri” maka duduklah diatas pelana yang dibelakang “Alkosi Menteri” Maka diburunya oleh “Khoja Bajar Jamar” akan “Alkosi Menteri” itu seperti orang memburu kuda lakunya.
Tatkala itu, “Alkosi Menteri” berjalan dengan empat kahi seperti kuda. Maka dicemetinya oleh “Khoja Bajar Jamar”. Maka dengan seketika datanglah kehadapan raja “Kibad Syahriyar”. Setelah dilihat raja akan Khoja itu datang, maka raja pun berbangkit memberi hormat. Akan Khoja itu dirusuh raja naik ke istana lagi dipegang raja tangan “Khoja Bajar Jamar” maka didudukkannya di sisi raja, pada suatu kursi yang keemasan bertatahkan ratna manikam. Maka raja pun duduklah. Maka titah raja : ”Hai orang muda yang terlalu budiman ! Apa yang kumimpi pada malam tadi ? Baik segera kau katakan kepadaku”. Maka sembah “Khoja Bajar Jamar”: ”Ya Syah Alam ! Ada pun yang dimimpi raja pada malam tadi, ada sebuah talbak dalam thalbak itu sebuah pinggan, dalam pinggan itu suatu makanan. Baharu raja hendak santap, maka datang seekor anjing hitam, maka makanan itu direbutnya, lalu dimakannya. Maka dari pada benci raja akan anjing itu. Maka yang pertuan pun terkejut lalu bangun. Maka daripada sangat murka pertuan lupalah akan mimpi itu”.
Maka titah raja : ”Sungguhlah demikian mimpiku. Seperti kata “Khoja Bajar Jamar” itu tiadalah bersalahan lagi”. Maka rajapun baharulah ingat akan mimpi itu. Maka raja pun bersabda : ”Sekarang apa takaburnya mimpiku itu ?”. Maka kata “Khoja Bajar Jamar” : ”Adapun Sah Alam hendak akan arti mimpi Sah Alam itu, InsyaAllah Taallah dapat petaka, persembahkan dia tetapi kemudianlah petaka persembahkan arti mimpi yang dipertuan itu. Akan sekarang petaka pohonkan darimu karna perkas duli yang dipertuan akan hal petaka”. Maka titah raja: ”Siapa yang berbuat aniaya akan Khoja itu ?”.
Maka sembah “Khoja Bajar Jamar” : Ya Tuanku Sah Alam “Alkosi Menteri” membunuh bapa hambamu tiada dengan dewasanya”. Maka segala hal ikhwalnya semuanya dipersembahkannya kepada raja. Peri “Khoja Bajar Jamar” diserahkan oleh “Alkosi Menteri” kepada Habsyi disuruhnya membunuh, dan peri bapanya diatas perbendaharaan karun dan “Alkosi Menteri” menanamkan mayat bapanya di atas perbendaharaan itu semuanya dipersembahkannya kebawah duli raja “Kibad Syariyar”. Maka tatkala itu juga disuruh raja periksanya seperti sembah “Khoja Bajar Jamar”, dan suruh raja lihat mayat bapanya Khoja itu; Sungguhlah pada tempat itu. Maka dilihat oleh Hamba raja. Sungguhlah perbendaharaan Karun itu dan bapa Khoja Bajar Jamar itu, sungguh ditanamkan diatas perbendaharaan itu. Tetapi hati tolong “Khoja bakhti Jamal” juga lagi takkal. Maka sekalian hal itu dipersembahkan kepada raja. Maka titah raja : ”Jikalau demikian ia telah “Alkosi Menteri” membuat aniaya kepada bapa Khoja”.
Maka dengan seketika itu juga “Alkosi Menteri” disuruh raja soalkan dan rumah tinggalnya “Alkosi Menteri” dan anak istrinya dianugerahkan raja kepada “Khoja Bajar Jamar”. Setelah sudah tersuruh anak istrinya “Alkosi Menteri” dan segala hamba sahayanya kepada “Khoja Bajar Jamar” hakim. Maka anak “Alkosi Menteri” seorang perempuan diberikannya kepada hulubalang Habsi itu. Dan seorang lagi disambilnya oleh “Khoja Bajar Jamar” akan istrinya. Hatta maka raja pun bertanyakan arti mimpinya itu kepada “Khoja Bajar Jamar”. Maka Khoja itupun hampir ke sisi raja, maka dibisikkannya kepada telinga raja itu. Demikian sembahnya : ”Adapun yang dipertuan baharulah istri. Maka hati raja tiada kasih akan dia maka perempuan itupun sekarang ada menaruh seorang habsi dalam sebuah peti, apabila malam maka dikeluarkannya, karna perempuan itu sangat birahi akan habsi itu. Pada tiap-tiap hari pekerjaan perempuan itu. Setelah didengar raja kata “Khoja Bajar Jamar” demikian, maka dalam seketika itu juga suruh raja periksa dalam istana raja itu. Maka dengan seketika itu juga, kedapatanlah seorang habsi dalam sebuah peti. Sungguh seperti kata Khoja itu tiada bersalahan lagi. Lalu pada waktu itu juga perempuan dan habsi itu disuruh raja tanamkan di dalam bumi hingga punggung. Maka sekalian orang hina ini disuruh raja melontari dengan batu akan habsi dan perempuan itu. Maka semuanya orang dalam negeri Madina itulah melontari dia sehingga mati. Maka raja pun menganugerahi “Khoja Bajar Jamar” dengan sepertinya selengkapnya pakaian raja-raja bertahtahkan ratna manikam. Maka tatkala itu “Khoja Bajar Jamar” didudukkan diatas segala menteri. Adapun raja “Kibad Sahriyar” tiadalah berhari dengan “Khoja Bajar Jamar” nanti segala melainkan pada malam juga berahirnya. Adapun raja dan khoja itu suda kala bersua kesukaan juga dalam negeri madina dan memeriksa segala menteri dan hulubalang dan segala rakyatnya. Siapa yang teraniaya dan siapa menganiaya. Karena negeri itu dipegang raja “Kibat Sahriyar” dan “Khoja Bajar Jamar” hakim sekalian dalam hukumnya. Wallahu Alam Bisawab.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar