Jumat, 30 Oktober 2009

cerpen jurnalis

NITIP SEBENTAR



“Ni, aku harus berangkat ke Tulungagung, posisi pemred di sana kosong”
“Jadi bagaimana dengan kami? Rumah ini akan segera diambil pemiliknya, untuk Ndari sih nggak ada masalah, dia kini mandiri dengan kecukupan layak taraf umum. Tapi Narno dan Nun yang masih kecilitu??! Lalu sampean pergi. Apa masih seperti hari-hari lalu? Jangankan uang dikirim, kabar ada atau dimana sampean, kami ndak tahu!”
Ni meninggalkan suaminya tertegun sendiri ditemani cigaret mengepul hampir memenuhi ruang tamu yang tidak luas itu. Ingatannya pada rumah orang tuanya, almarhum Tinah dan Warmin yang kini sunyi tanpa penghuni. Ia membayangkan suasana malam di sana pasti wingit. Sumur di belakang rumah yang tanpa atap. Tempat jemuran yang terletak di tengah rumah semi permanen juga tanpa atap. Jadi kalau malam, jika ingin makan atau sekedar bikin kopi harus lewat lorong rumah yang berdinding tapi tak beratap penghubung antara rumah induk dan dapur. Rumah yang dulunya rame dengan banyak penghuni sekarang jadi angker karena tanpa penghuni. Ia Mengingat rumah kuno yang luas, beserta halaman yang kurang lebihnya seperempat hektar berisi tanaman yang berguna untuk menopang hidup. Rambutan,nangka, sawo, mangga gadung, kopi, pisang, jeruk bisa untuk menutupi sebagian kebutuhan hidup. Tapi, Marni, maukah ia?Lantas sekolah anak-anak? Pasti mereka protes karena harus mengayuh sepeda sejauh dua belas kilo. Jarak tempuh yang jauh untuk anak kelas dua dan empat SD.
”Gimana Kang?Apa gak lebih baik sampean kembali mbuka jahitan aja, seperti dulu?Sampean sih kurang sabar! Mestinya kerja harus jujur, jadi orang tidak kapok! Tapi semua kan belum terlambat, semua bisa dimulai lagi dari awal. Anak sudah banyak. Usia kita pun merangkak tua. Rasanya kesempatan dan sisa hidup kita harus kita pakai untuk berbenah diri, bertobat, bertenang-tenang, berdzikir, berkumpul, dan berbaik-baiklah pada sesama.........
Marni berjalan ke halaman depan rumah, membolak-balik jemuran di pagar bambu yang sedikit miring menjorok ke selatan. Maklum musim hujan telah tiba, jadi jemuran bisa kering setelah dua atau tiga hari. Ia sambil sesekali melirik suaminya yang masih sibuk mengepulkan cigaretnya dan sesekali menyeruput kopi pahit di teko putih usang kekuning-kuningan.
Jam 05.00 usai subuhan Sumo meninggalkan rumah tanpa seorang keluarganya yang tahu. Jam segitu istrinya sudah dipasar berdagang pindang, sementara anak-anaknya belum bangun. Mertuanya yang mulai renta belum tampak mungkin di dapur belakang, di sumur atau ke kanal mencuci pakaiannya sendiri. Hanya beberapa baju dan berkas-berkas yang dianggap penting ia bawa serta dalam tas cangklongnya. Ia tapaki ruas jalan sempit diantara kanal dan pematang sawah sampailah ia di perlintasan bus-bus antarkecamatan.
Bus Minto berjalan landai sedikit menenangkanotaknya, membebaskan pikirannya, melonggarkan tubuhnya dari kepenatan rumah selama ini. Sumo menghirup kebebasan dari rutinitas membantu istrinya mencuci ikan sortiran atau orang pasar menyebutnya ikan bs untuk dipindang, paginya mengantar Marni, istrinya ke pasar. Kembali dari pasar ia menghangatkan sayur dan lauk sisa makan malam untuk sarapan. Kadang makan belum selesai, anak bungsunya minya diantar sekolah. Anak kecil itu sering mengeluhkan bokongnya yang njarem kena hentakan boncengan sepeda beradu dengan bebatuan jalan. Tapi besoknya pasti minta antar lagi, daripada harus jalan kaki melewati jembatan sepi yang berjarak lima kilometer.
Baginya rumah menyisakan kenangan yang tak banyak. Yang sedikit membahagiakan hanyalah anak-anak yang penurut tak banyak usul atau protes, tak banyak permintaan, dan istri yang nrimo dan sabar saja. Justru itulah membuat hidup kurang menggairahkan, taraf hidup mesti ditingkatkan, kelayakan mesti dipertanyakan lalu dijawab dan diwujudkan. Sebagai suami dan ayah perlu menciptakan situasi yang makmur. Ada tujuan besar yang hendak dicapainya. Beberapa puluh rupiah untuk menyenangkan hidupnya, sedikit jabatan untuk menaikkan derajatnya.
Sumo merasa kurang cocok dengan situasi budaya dan geografis daerahnya. Menjala bukan kegemarannya, mencangkul, mutas, berkebun, pun bukan keahliannya.
Dulu ia pernah mengabdi di Samsat kota. Meski hanya sebagai tukang gesek mesin kalau ada orang yang mau memperpanjang STNK. Itu bukanlah pengalaman yang teremehkan. Dia banyak belajar mengenai pelik-pelik kasus orang yang mondar-mandir ke Samsat mengurusi permasalahannya. Beberapa rekan plisi pun jadi karibnya. Terlebih saat itu ia sering dimintai tolong menunjukkan orang-orang desa yang punya simpanan kayu kelas A, B,C. Kayu mana yang boleh dimiliki dan mana yang tidak boleh dimiliki, alias milik negara. Meski hidup sudah layak tapi kemudian ia bosan juga karena tidak juga diangkat jadi sipil polisi. Akhirnya ia keluar, dengan kesadarannya yang hanya lulusan SMP.
Keluar dari Samsat ia ikut kenalan ke Tulungagung. Di sana ia belajar banyak mengenai filosofi hidup. Bahwa kejayaan hidup itu banyak dipengaruhi oleh ijazah yang dimiliki. Itu juga yang membuat kita terpandang, atau terperhitungkan oleh orang. Itu juga yang membuat orang lain memikirkan keberadaan dan kerja kita. Teman itu mengusahakan Sumo mendapat ijazah SMA lewat kejar paket C, tidak makan waktu, tidak bertele-tele. Entah bagaimana ceritanya, setelah sekian tahun aku tidak bertemu tiba-tiba ia ke rumahku sambil membawa setumpuk koran kriminal bertitel ”Detektif”. Di situ tercantum pengurus majalah. Pemred: Sumodijoyo,S.H.
Aku tertegun, kecut, takjub, kemudian bringsut hatiku. Teman kecilku yang sudah kuanggap saudara ini berubah 180 derajat. Mudahnya mendapat titel di belakang nama. Sungguhan atau hanya akal-akalan, demikian pikiran picikku melintas begitu saja. Tak banyak aku pertanyakan. Kini bicaranya sudah lain. Ia tampak berwibawa, diplomatik, karismatik, aksen bicara teratur, terdidik, tidak kampungan. Yang menggelitik, bajunya wartawan kental, celana jeans, hem dengan lengan dilinting, rompi penuh saku, berkalung telepon genggam diselipkan ke dalam saku rompinya, ada bros berlogo nama koran terpasang di kerah bajunya.
Pertemuan ini semacam sambung silaturahmi. Kami membicarakan kabar teman-teman kecil dulu.Kuceritakan siapa-siapa yang sudah jadi kaya, tetap jadi buruh, jadi alim-ulama, jadi kepala desa, jadi carik. Tak lupa kita bahas aksi mencari jamur merang yang kemudian dikejar si pemilik sawah dikira akan mutas ikan yang ada di empangnya. Ditengah obrolan kami, sesekali hapenya berbunyi. Ia jawab dengan penjelasan serius, terperinci tapi susah untuk kumengerti.
”Ya, sudah entry naskah, layouter sudah siap, kirim aja lewat fax atau email. Pastikan editor hadir dalam meeting.... Saya harap besok pagi bisa terbit dan terbaca tanpa kesalahan” begitu bicaranya. Yang kutahu tiap pagi matahari terbit dan menghangatkan punggungku yang lagi mencangkul. Andaikan sampai jam 9 masih gelap itu pertanda musim hujan telah tiba. Orang-orang libur bikin gaplek, mereka memilih bikin gathot. Makanan yang kata penyuluh tidak bergizi tapi cukup menenangkan perut. Peduli amat sama gizi. Mbah Markun saja yang kerjanya sebagai pengambil aren, tidak suka daging, tiap hari makan sama thiwul, sego ampog, sayur lompong, ikan asin, sambal, toh masih sehat hingga kini usianya 85 tahun. Tidak habis pikir aku dengan anjuran makanan sehat lima sempurna itu, sangat mengekang hidup. Makan saja kok dijadwal bisa-bisa tidak sempat menjala ikan aku.
”Mas, aku ingin sampean jadi mitra kerjaku. Aku berencana buka kantor cabang di sini. Tampaknya prospeknya lumayan. Bisa menghidupkan desa ini. Sebagai generasi penerus sudah sepantasnya kita ini memajukan,memakmurkan, dan memberdayakan SDM desa ini. Sampean setuju bukan jika lapangan kerja baru menggeliat dapat menjadi alternatif mereka untuk menyalurkan bakat dan kreatifitasnya. Generasi tidak lagi gaptek, mereka berwawasan.” Begitu paparnya yang bikin pikiranku ruwet. Ruwet harus segera ke sawah karena janjian sama kang idris yang mau membajak. Ruwet dengan bahasa aneh berbelit, atau apa ya dia baru saja berstuditur di planet lain....?Kini bukan lagi ”kang” yang dipakainya, tapi ”mas....”. Mungkin mas itu lebih bermartabat karena tidak mudah luntur meski digosok sama abu dapur.
Kabarnya sedulurnya, satu kakak laki-laki dan delapan adiknya sudah tidak memperdulikannya lagi. Adik perempuan ketujuhnya sudah tidak mau berurusan lagi. Gara-garanya, suatu ketika Sumo datang ke rumah adiknya bersama dua polisi. Polisi itu menanyai macam-macam seputar pemerolehan kayu, lantas mencatat, dan menandai kayu-kayu itu. Adiknya menangis, takut dipenjara. Sumo menyarankan untuk memberi amplop damai saja supaya aman. Adik perempuan itu pun tidak lagi mengungkit masalah dua ekor kerbau yang katanya dipiara, tapi tidak ada kabar untung atau masih hidupnya. Ia pun tidak lagi menanyakan serkel, pemotong kayu yang dipinjamkannya. Memang perjanjian awal akan ada bagi hasil, lama-kelamaan raib tanpa jejak barang itu.
”Mas, piye tawaranku? Setuju tidak! Usaha ini sebagai parameter rasa nasionalis kita lho...... Sampean tidak perlu lagi susah-susah turun ke sawah, ngumpulin bekicot, nanam besaran. Menurut hemat saya, PKBM yang datang bak payung pelindung heroik itu kok tidak banyak membawa perubahan. Kita ini perlu melakukan hal yang revolusionergitu...... “ Sumo membuyarkan lamunanku. Berapi-api ia bicara. Itu mengingatkanku pada jurkam partai pohon yang mengumbar kata-kata agung tiap mau pemilu. Aku pun sukar menolak tawarannya.
“Ya, aku setuju tapi ijinkan aku tetap ke sawah, angon bebek, cari belut, cari bekicot, mutas. O, ya kalau sore aku mau tetap ikut sekolah gratis, biar seperti Kang Parmin yang katanya sudah dapat ijazah paket A” Demikisn syarat ringan yang kuajukan untuk teman ngajiku di masa kecil dulu. Menyungging kecil ia, tanda puas dan senang dengan keputusanku. Pantas saja kalau dulu banyak yang naksir. Sekarang saja, meski sudah beranak tiga wajahnya masih tampan, setampan Rano Karno di era 80-an. Apalagi dengan dandanan necisnya, tampak berkelas.
“Sekolah memang penting Kang. Kalau sampean pinter, bisa aktif terlibat dalam organisasi inti kita. Sampean bisa meeting, ikut konferensi, sarasehan, jadi narasumber di pelatihan-pelatihan, lalu sampean naik pangkat. Paling tidak nantinya bisa jadi reporter, tukang meliput berita atau lebih tinggi lagi, jadi korlap” Sumo membuat anganku melayang. Kulayangkan untuk kata-kata yang tak mudah kupahami, sambil mengangguk-angguk kupikir , aku sudah cukup insaf dengan keberadaan ndesoku ini. Yang penting anak-anakku tidak keleleran, istriku tetap menaruh senang padaku cukup.
Dua hari kemudian, rumahku yang paling lumayan bagus bagus di dusunku dirombak oleh orang-orang suruhan Sumo. Ruang paling depan yang biasa kujadikan ruang menerima tamu diubah menjadi kantor, pintu ditempatkan di depan. Antara kantor dan rumah indukku ada pintu tengah. Rumah indukku sendiri punya ruang tamu dan pintu samping. Jadi jika keluargaku menerima tamu, kami tidak mengganggu dan tidak terganggu oleh kebrisikan urusan kantor. Di dalam kantor ada satu kamar tidur. Sementara sumur (kamar mandi-red) hanya satu di belakang untuk dua rumah, rumahku dan mertuaku. Rumah depanku disulap sedemikian rupa, menawan. Ada kelambu warna biru bergaris kuning, sofa, meja dan kursi putar tempat dik Sumo, ada lemari es, lemari buku, rak koran, bebrapa vas bunga dan pernik-pernik kantor lainnya. Di depan halaman, pinggir jalan terpasang plakat bertulis ”DETEKTI NEWS”.
Tiap harinya ada saja orang yang berdatangan ke kantor. Ada yang memaparkan perkaranya, musibah yang sedang melandanya. Suatu ketika ada seorang guru datang, ia memohon untuk tidak diorankan (tidak dimuat dalam koran-red), dan tidak diadili di kepolisian, juga tidak dimeja hijaukan. Ia sudah mengakui semua kesalahannya, sudah menodai muridnya yang kelas enam. Tapi saat ini ia sudah mengusahakan menggugurkannya, keluarganya diberi uang imbalan, jadi sudah tidak ada masalah lagi. Yang jadi masalah kalau publik tahu hingga terendus pihak Diknas, bisa jadi bom baginya juga keluarganya.
”Pak, orang yang menanam jagung tidak mungkin tumbuh padi. Orang yang membakar sampah tidak mungkin lepas dari asap. Begitu pun orang yang mengubur bangkai tidak mungki berbau pandan. Kalau Tuhan menciptakan bumi, pasti langit kan mengiringi. Kalau ada keburukan kebaikan harus menutupinya, begitu kan Pak? Jadi semua harus berjalan pada relnya, berjalan sesuai garisnya.” Begitu kata-kata bijak Dik Sumo. Waktu kita sama-sama mengaji dulu, pak ustadku tidak serumit itu menjelaskan mengenai orang-orang yang pantas masuk surga atau neraka. Akh... lebih baik kutinggal ke sawah saja, menunggui orang matun sawah, sambil ndangir kacang mumpung belum turun hujan.
Esoknya, pak guru SD Sumberberas itu datang lagi. Setelah bercakap-cakap cukup lama, dan menandatangani beberapa kertas, ia pulang. Sebelumnya ia serahkan kunci mobil beserta surat-surat yang aku tidak tahu. Ia pulang diantar salah satu karyawan naik motor kantor.
Dalam waktu tiga bulan kantor cabang semakin meriah. Cat tembok dan kusen yang kusam diubah menjadi lebih terang. Kini mobil merah Katana semakin melancarkan kerja harian kantor. Kalau hari libur, aku diajak serta jalan-jalan naik mobil. Meski sekedar berkeliling desa, atau kadang ke Alun-alun kota adalah hal menyenangkan bagi aku dan anak-anakku.
Sekarang, orang-orang sekitar dan anak-anak tidak perlu membeli bukubacaan. Mereka cukup datang ke kantor, langsung dapat membawa pulang koran Detektif. Orang-dusun banyak yang menyukainya. Di dalamnya ada TTS, cerita jenaka, cerita horor, iklan pengobatan alternatif, iklan dukun santet, berita kriminal, reportase tempat-tempat keramat yang cocok untuk bersemedi, atau mendapatkan wangsit, kekuatan, kesaktian. Tak luput terselipi juga gambar-gambar wanita cantik agak seronok. Makin hari kelompok belajarpun semakin ramai karena semakin banyak orang yang ingin bisa baca-tulis, lalu ikut jadi konsumennya Detektif.
Koran Detektif mengalahkan rating koran nasional. Dik Sumo semakin terkenal. Ia pun menerima beberapa orang sekitar bekerja di kantor. Dik Jum, yang dulunya juga penjahit, lulusan SMP jadi mendadak pegang tape recorder, kerjanya menanyai orang-orang yang layak diberitakan.
Para karyawan terbiasa kerja profesional dan mandiri, meski Pemrednya, dik Sumo keluar kota. Semua bekerja sesuai bagiannya, termasuk aku. Aku pun mulai belajar tentang cara orang kota berbicara. Kubaca juga beberapa buku. Kata dik Sumo itu penting biar gak kuper alias kurang pergaulan. Bagianku cukup meringankanku, tiap pagi aku membersihkan kantor, membereskan kertas yang bercecer, menyediakan teh atau kopi sesuai pesanan karyawan. Tiap bulan aku mendapat bayaran, gaji kerja dan uang sewa tempat untuk kantor. Agak siang aku bisa melanjutkan kerjaku di sawah, ke kebun, kadang mencari belut, mencari bekicot, atau apa saja sesuai giliran keadaan. Hanya saat tertentu saja aku diikutkan bertugas ke daerah lain. Kalau ada urusan mendadak dan butuh bantuan tenaga aku turut serta. Suatu ketika dik Sumo terima telepon, ia mengadakan kesepakatan. Aku beserta dua karyawnnya, Anton dan Jum berangkat ke Ambulu, desa tetangga. Kami menuju rumah kepala desa. Di sana mereka telah menyiapkan beberapa kubik kayu. Aku beserta beberapa orang suruhan Pak Kades mengangkutnya. Tanpa banyak pertanyaan yang sebetulnya ingin kutanyakan, kami pun membawa kayu itu ke perbatasan desa, antara desa Ambulu dan Tamansari. Di situ kami turun. Anton mendekati dua orang bertubuh tegap, berbicara sangat serius dan tak terdengar, kemudian menerima uang sebendel uang ratusan ribu. Kami turun dari truk. Dua orang tegap dan sopir membawa kayu itu. Sementara kami naik dokar menuju rumah Kades Ambulu untuk mengambil motor kami tadi.
Bulan ketiga, dik Sumo datang bersama perempuan muda, kira-kira berumur 25-an, seusia dengan anak pertamanya. Kali ini takjub aku, beberapa perempuan yang pernah didekatinya baru kali ini yang paling cantik, kulitnya kuning, wajahnya bersih, potongan rambut pendek. Kata anak-anak muda seperti potongan rambut Demi moor. Tubuhnya langsing semampai. Dia cukup ramah, sopan, baik. Tapi tidak banyak cerita mengenai kehidupannya, keluarganya atau pekerjaan sebelumnya. Anak perempuan pertama dik Sumo itu sudah menikah, suaminya jadi TKI, kerja jadi sopir di Arab. Hidupnya lumayan, bisa hidup layak tanpa merepotkan orang tuanya. Malah, kabarnya ibu dan dua adiknya yang juga perempuan menjadi tanggungannya. Anis berubah dulunya dia anak manja dengan kecukupan materi dan kasih sayang sang ayah. Kini menjadi ibu dari dua anak balita, mandiri, pekerja keras, pendiam, mungkin karena menyimpan dendam untuk bapaknya yang tidak tahu adab pada keluarga.
Sebetulnya jarak 50 km antara desa Ambulu ke Sumberberas bukanlah jarak yang jauh bagi seorang ayah yang berkehendak mengunjungi anak dan istrinya sambil memberi sebagian jerih payah usahanya yang menanjak. Ia menutup hati untuk jatuh bangun ekonomi istri dan anaknya. Pastinya tahu, hanya saja sengaja ia tidak membicarakannya denganku. Mungkin juga dia sedang memikirkan strategi agar diterima kembali oleh keluarganya.
Dik Sumo datang dengan wajah sumringah menggendong balita perempuan, kira-kira umur delapan bulan. Ia lantas memulai dengan menceritakan perjalanan hidupnya selepas dari istrinya. Di Malang, dia bertemu Asnia. Pertemuan yang tidak sengaja di sebuah rumah makan. Beberapa kali dia bertemu, tiap kali kantornya memesan makanan untuk rapat di rumah makan itu. Dari situ Asnia menceritakan kelu kesah hidupnya, yanng bersuami kejam. Secara agama ia telah di talak. Ia sudah beranak satu dengan suami pertamanya itu. Kini anaknya yang juga perempuan sudah TK kelas A tinggal bersama orang tuanya di Malang. Dik Sumo ingin menolongnya, dengan menikahinya. Agama mengesahkan pernikahannya satu tahun lalu, dan dikaruniai seorang anak yang kini dipangkunya. Ia menceritakan rencananya akan membeli rumah di kota. Saat ini masih proses pengajuan, sudah membayar uang muka. Pembangunannya belum rampung, sehingga ia butuh tempat tinggal sementara. Rencananya, tahun depan kantor ”Detektif” juga akan jadi satu gedung dengan rumah dik Sumo.
Awalnya tidak ada masalah yang berarti. Bagi keluargaku, Tamu adalah raja yang patut dihormati. Hari berganti pekan. Seminggu berganti bulan. Masalah-masalah kecil bermunculan, bertubi-tubi, jadi bisul, kalau dibiarkan bisa meradang, kalau tidak segera diatasi bisa infeksi. Lama-lama aku menanggung beban juga, yang sulit kubicarakan dengan dik Sumo. Orang berpendidikan yang diplomatis ternyata lebih sulit diajak bicara dan tidak sensitif. Mending Kang Parijan, tukang bajak sawah yang tak banyak teori tapi mengerti bahasa mimik. Istriku sering mengeluh kecapekan. Hampir tiap malam menjelang tidur minta dipijiti. Kalau tahu aku juga capek dia tidak minta dipijiti, tapi menggerutu. Keharmonisanku jadi terganggu. Suatu malam ia bercerita tentang kejadian-kejadian di rumah. Makanan di rumaha habis padahal jadwal makan siang telah tiba. Anak-anak juga mau pulang dari sekolah. Terpaksa ia harus masak lagi, meski badan capek pulang dari sawah mengirim orang matun. Belanja kebutuhan dapur jadi dua kali lipat, ada kebutuhan tak terduga, ia sendiri yang harus menutupinya. Ia keluhkan kamar mandi yang sering ada kresek berisi kotoran manusia, tissue, atau popok sekali pakai. Popok dan pakaian kecil yang tertumpuk hingga berhari-hari, ujungnya istriku lagi yang membersihkan atau mencucinya. Anak pertamaku sering dimintai tolong menjagakan anak dik Sumo. Awalnya senang, lama-lama jam belajarnya jadi terganggu. Cemilannya cepat habis. Dengan tanpa canggung ia nimbrung. Padahal diam-diam Asnia suka sekali belanja jajanan pasar, kemudian menyimpan dan makan sendiri di kamarnya sambil bermain hape. Kalau uangnya lagi banyak, ia makan di warung, berbelanja makanan, pakaian, perhiasan, bertamasya. Biasanya bulan depannya perhiasan itu raib, mungkin ia jual untuk menutupi kebutuhannya.
Tampaknya timbul perasaan jenuh juga berlama-lama tinggal di rumahku. Sekarang mereka mengaturnya dengan bermalam di rumah adik perempuan ketujuhnya, atau adik perempuan keenamnya. Kudengar dari teman, keluhan adik-adiknya yang disinggahi serupa dengan keluhan istriku.
”Mbak Yu..... maaf kalau sampean jadi repot karena istri masku. Aku sendiri juga tidak habis pikir, dapat dari mana dia istri begitu. Wonge ayu, tapi ngalah-ngalahi anak kecil. Jadi ibu kok ya begitu. Gak ada tanggung jawabnya. Orangnya cantik tapi jorok. Masku jadi tak berdaya dibuatnya. Jadi bertekuk dihadapannya. Sudah malas, tidak mau tahu urusan dapur lagi.... Saya sangat malu sama keluarga sampean” begitu kata Sum, adik keenamnya dik Sumo. Istriku enggan untuk memaparkan permasalahannya, karena semua sudah terwakili oleh ucapan wanita separo baya itu.
Beberapa hari pergi kembali lagi ke rumahku. Malamnya mereka ribut hebat. Dua anakku mengungsi ke rumah mertuaku yang berselang dua rumah. Istriku menyumpal telinganya dengan kapas, tetap belum bisa tidur. Karena memang tembok kamarnya berbatas dengan tembok kamarku. Aku merasa kecewa dan menyesal telah menerimanya di rumahku. Aku semakin bingung ingat sertifikat rumahku dipinjamnya. Bilangnya hanya beberapa hari, hanya untuk formalitas persyaratan inden rumah. Hal itu tidak diketahui istriku. Jelas kudengar isakan tangis dik Sumo, umpatan kotor istrinya, tuntutan istrinya. Sesekali dik Sumo juga mencerca istrinya. Lain sekali dengan penilaian awalku pada kata bijak dik Sumo.
”Mana rumah yang kau janjikan itu? Apa rumah rongsokan, tua, dan angker itu yang mau kau peruntukkan padaku? Kukira kamu laki-laki yang dapat diandalkan, tak tahunya kamu hanya laki-laki parasit, yang menumpang kesana-kemari tak ada kepastian sebelum masuk bui! Aku sudah mengantongi semua rahasia tipu-tipumu. Semua bukan soal bagiku. Masalahnya, aku mau ada kepastian statusku!” Asnia berteriak sambil terdengar beberapa barang berjatuhan.
”Tenang, semua butuh waktu” Dik Sumo bicara melemah.
“ Kalau aku mau, dulu-dulu sudah kutinggal kau. Tapi sudah ada anak... “
“ Kamu perempuan sundal, aku pun tahu siapa kamu. Jangan mentang-mentang. Aku laki-laki bisa lebih menang dari padamu.”
”Aku tidak tahan hidup begini. Lihat saja kalau suatu hari kamu menuai akibatnya, dan hidupmu jadi terlunta-lunta. Aku masih muda, masih banyak yang mau padaku. Sampean, laki-laki tua yang tidak jelas. Ditolak keluarga. Dikucilkan keluarga”
”Sudah! Jangan bicara saja. Kalau nanti aku kaya kupastikan kamu bersipu di lututku! Aku mau tidur!”
”Boleh kamu tidur, tapi harus kamu ingat PR dari pak Kasun tadi. Keberadaanmu dicurigai. KTP-mu sudah dua tahun mati. Gugatan ceraimu pada istri tuamu itu dihiraukan. Pengadilan juga tidak bisa memutuskan karena ucapanmu dianggap tidak berdasar. Istrimu itu ternyata lebih pintar dari sarjana hukum sepertimu. Sengaja ia membuatku tidak berstatus. Kamu pun menggantung. Dan orang-orang di luar sana..... yang mulai melek, pintar, tahu hukum. Ada berapa yang ingin menuntut balik dirimu. Pokoknya besok aku mau pergi”
”Dasar Sundal! Pergi dengan laki-lakimu ya?! Awas kamu, jangan harap bisa lepas dariku.”
”Laki-laki tua sepertimu, jangan terlalu banyak berharap apalagi denganku, yang masih punya kesempatan lebih banyak. Sepertimu hanya nunggu giliran aja!”
”Sudah cukup! Aku sumpek capek, mau istirahat”
Kutunggu, tidak ada suara apa-apa hingga seperempat jam. Sengaja aku tidak tidur. Kubiarkan istriku istirahat. Timbul suara tangis anaknya, lalu diam.
”Mas! Kalau begitu jadikan uang saja rumah itu, beres kan!” Suaranya lebih pelan, sedikit merajuk.
”Belum bisa, sulit As. Masih berupa pethok, atas nama Almarhum bapakku lagi” Suaranya landai. Tampaknya berusaha sabar.
”Dengan SH-mu kan bisa, kamu pegang kerawangannya, sebelumnya kamu bisa melakukan lebih dari ini.... Aku capek begini Maas” Nadanya tidak lagi marah.
”Harus ada tanda tangan ahli waris, kakakku dan adik-adikku”
Mata dan tubuhku lemas tidak bisa toleransi lagi. Tidak ada lagi yang bisa kudengar.
Kepalaku pening, nyut-nyut rasanya. Istriku membangunkanku.
”Bangun Kang! Anak dik Sumo menangis. Tengok, ada apa...”
Aku langsung menuju kamarnya. Sepertinya ada yang menyiram mukaku dengan air dingin. Tidak lagi ada rasa ngantuk, meski kepala masih terasa sakit dan pusing. Rasanya barang-barang yang ada mengelilingiku. Anak perempuan kecil yang tidak gemuk itu menangis, merangkak di lantai, sendirian. Kugendong dia. Spontanitas kami membuat kami tidak berkata-kata. Aku menenangkan anak itu, sementara istriku memeriksa barang-barang yang ditinggalkannya. Baju-baju yang kurang bagus, baju anaknya, dan susu bayi di kaleng. Di meja kecil sebelah tempat tidur ada kertas bertuliskan, ”Nitip Sebentar ya Mas – Sumodijoyo, S.H”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar